24 October 2025

MAESTRO Surakarta Jaga Nyala Tradisi: Ki Anom Suroto, Inovator Cator dalam Wayang Kulit

Klaten, [Tanggal Hari Ini] – Jagat seni pedalangan Jawa berduka sekaligus bangga memiliki figur sentral seperti Ki Anom Suroto. Dalang kondang kelahiran Klaten, 11 Agustus 1948, ini diakui luas sebagai salah satu maestro yang berhasil mempertahankan kemuliaan pakem Wayang Kulit gaya Surakarta sekaligus melakukan inovasi signifikan demi menjaga relevansinya di era modern.

Ki Anom Suroto tidak hanya mewarisi bakat dari ayahnya, Ki Sadiun Harjadarsana, tetapi juga memperkuatnya melalui pendidikan formal. Lulusan Jurusan Pedalangan Sekolah Menengah Kesenian Indonesia (SMKI) Surakarta ini menguasai secara mendalam aturan baku (pakem) pementasan, yang terlihat jelas dalam teknik sabetan (gerakan wayang) yang lugas dan estetis, khas gaya Surakarta yang lembut dan njawani.

Namun, yang membedakannya adalah keluwesan dalam penyajian. Berbeda dengan pandangan konservatif murni, Ki Anom Suroto meyakini bahwa Wayang Kulit harus mampu berbicara kepada penonton dari berbagai generasi.

Kontribusi terbesar Ki Anom Suroto terletak pada catur atau dialog. Ia dikenal piawai menyisipkan humor cerdas dan kritik sosial yang tajam melalui adegan gara-gara, di mana para punakawan seperti Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong mengambil panggung.

"Humor yang disampaikannya tidak sekadar tawa, melainkan refleksi mendalam atas isu-isu kemasyarakatan," ujar seorang pengamat budaya.

Kemampuannya memadukan alur cerita epik Mahabharata dengan isu-isu kontemporer menjadikan pertunjukannya selalu ditunggu. Setiap pementasan bukan hanya tontonan, tetapi juga ruang dialog kultural yang hidup. Ia berhasil menjadikan Wayang Kulit sebagai media komunikasi dua arah antara seniman dan masyarakat.

Selain kecerdasan dialog, Ki Anom Suroto juga menekankan pada garap (penyajian) yang harmonis, memastikan sinkronisasi sempurna antara suara sang dalang, instrumen gamelan, dan lantunan sinden. Kualitas inilah yang mengangkatnya ke panggung internasional. Ia merupakan salah satu duta budaya Indonesia yang paling sering pentas di luar negeri, memperkenalkan filosofi Jawa ke berbagai penjuru dunia.

Sebagai pendidik tak langsung, Ki Anom Suroto telah menginspirasi banyak dalang muda, termasuk putranya, Ki Bayu Aji. Warisannya adalah cetak biru tentang bagaimana seorang maestro dapat menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan seni pedalangan.

Kini, nama Ki Anom Suroto akan terus dikenang sebagai penjaga otentisitas dan pembaharu yang tak pernah lelah menghidupkan Wayang Kulit.

No comments:

Post a Comment