09 November 2025

Insiden Ledakan di SMAN 72 Jakarta: Motif Dendam dan Penguatan Keamanan Sekolah

JAKARTA – Insiden ledakan yang terjadi di salah satu fasilitas pendidikan di Jakarta, tepatnya di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 72 Jakarta, telah mengungkap sisi kelam permasalahan internal sekolah. Kepolisian Daerah Metro Jaya mengonfirmasi bahwa ledakan yang terjadi pekan lalu bukan disebabkan oleh kegagalan teknis, melainkan murni tindak kriminal yang didasari motif dendam pribadi.

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Ade Ary Syam Indradi, mengungkapkan bahwa aparat telah menahan seorang tersangka, yang merupakan alumnus SMAN 72. Tersangka diduga merakit bom pipa berdaya ledak rendah (low-explosive) yang kemudian diletakkan di area kantin sekolah. Motif utama tersangka adalah rasa sakit hati karena merasa pernah disingkirkan oleh beberapa oknum guru dan manajemen sekolah saat masih aktif sebagai siswa, serta kegagalan dalam proses masuk perguruan tinggi favorit yang ia kaitkan dengan minimnya dukungan dari pihak sekolah.

Insiden ledakan terjadi saat jam istirahat, yang menyebabkan tiga siswa dan satu petugas kebersihan mengalami luka ringan hingga sedang akibat serpihan ledakan. Beruntung, daya ledak yang relatif rendah mencegah jatuhnya korban jiwa. Kejadian ini sontak memicu kepanikan massal, dan kegiatan belajar mengajar sempat dihentikan selama dua hari untuk kepentingan investigasi dan pemulihan psikologis siswa.

Pasca-kejadian, Dinas Pendidikan DKI Jakarta segera mengambil langkah tegas. Seluruh sekolah negeri di ibu kota diinstruksikan untuk melakukan audit keamanan menyeluruh. Fokus audit mencakup pengecekan ulang sistem keamanan, termasuk CCTV, kontrol akses gerbang, dan prosedur tamu masuk. Selain itu, aspek kesehatan mental dan psikologis siswa serta staf pengajar menjadi perhatian utama.

Pengamat Pendidikan, Prof. Dr. Bintang Perdana, menyoroti bahwa insiden ini merupakan alarm keras bagi institusi pendidikan. "Sekolah seharusnya menjadi tempat yang paling aman. Kasus ini menunjukkan bahwa ketegangan sosial dan masalah psikologis yang tidak tertangani di lingkungan sekolah dapat berujung pada tindakan ekstrem," ujarnya. Ia menyarankan agar program konseling psikologis diperkuat, dan jalur komunikasi antara alumni dan pihak sekolah harus tetap terbuka dan sehat, bukan hanya sekadar acara seremonial.

Pihak sekolah, melalui Kepala Sekolah SMAN 72 yang baru, berjanji akan meningkatkan pengawasan, termasuk pembatasan ketat terhadap barang bawaan yang masuk ke area sekolah dan peningkatan patroli keamanan. Kasus ini tidak hanya menyoroti ancaman fisik, tetapi juga pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang inklusif dan suportif guna mencegah potensi dendam di masa mendatang. Tersangka kini menghadapi dakwaan terkait terorisme dan perusakan, dengan ancaman hukuman penjara yang berat.

No comments:

Post a Comment