09 November 2025

Transformasi Digital di Sektor Pertanian: Petani Milenial Kunci Ketahanan Pangan Nasional

YOGYAKARTA – Indonesia menghadapi tantangan besar dalam memastikan ketahanan pangan di tengah isu perubahan iklim dan konversi lahan. Jawaban atas tantangan ini kini datang dari desa: Transformasi digital di sektor pertanian yang diinisiasi oleh para petani milenial. Pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) secara agresif mendorong adopsi teknologi berbasis data dan aplikasi untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi.

Petani milenial saat ini tidak lagi mengandalkan cara-cara konvensional. Mereka mulai mengadopsi konsep Precision Agriculture atau Pertanian Presisi. Penggunaan drone untuk pemetaan lahan, aplikasi Internet of Things (IoT) untuk memantau kelembaban tanah dan kadar unsur hara secara real-time, serta aplikasi e-commerce untuk memotong rantai distribusi, menjadi pemandangan yang semakin umum.

Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Kementan menyatakan bahwa pilot project di Jawa Barat dan Jawa Timur menunjukkan hasil yang luar biasa. "Rata-rata peningkatan produktivitas padi naik 20% dan penggunaan pupuk dapat dihemat hingga 15% berkat teknologi sensor dan analisis data," jelasnya. Selain itu, platform marketplace pertanian yang dikelola petani milenial telah berhasil meningkatkan margin keuntungan petani hingga 30% karena mereka bisa langsung berinteraksi dengan konsumen akhir atau industri.

Tantangan utama dalam transformasi ini adalah kesenjangan digital di daerah terpencil dan keterbatasan modal untuk membeli teknologi. Untuk mengatasi hal ini, pemerintah meluncurkan program Bantuan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan skema khusus untuk petani berbasis teknologi, serta pembangunan infrastruktur jaringan internet (Base Transceiver Station/BTS) di sentra-sentra pertanian.

Kementan juga intensif melakukan pelatihan literasi digital dan kewirausahaan kepada generasi muda di pedesaan. Diharapkan, dengan semakin banyaknya petani milenial yang melek teknologi, sektor pertanian dapat menjadi lebih atraktif dan profesional, sehingga menjamin suplai pangan nasional yang berkelanjutan dan berkualitas. Transformasi ini membuktikan bahwa anak muda adalah agen perubahan kunci dalam mewujudkan ketahanan pangan masa depan Indonesia.

No comments:

Post a Comment